Hari ini sebuah fenomena telah kembali aku lalui dengan panjangnya detak waktu yang bergulir selama 24 jam. Pelajaran demi pelajaran telah aku dapati. Angin yang berhembus pun kian damai untuk dihirup. Namun apalah artinya semua itu jika kali ini aku masih hanya termenung bertanya apa yang akan terjadi pada rembulan jika bintang tidak lagi kembali bersinar terang di kala malam menjelang. Artinya, apakah semua yang terjadi dalam 24 jam yang aku lalui benar benar bermakna dan memberi sentuhan baru dalam hidup ku? Ku kira ini adalah pertanyaan yang bodoh dan diucapkan oleh orang yang tolol.
Pertama, hari ini aku bangun tidur dengan posisi kepala berfikir berat tanpa tahu yang bikin erat itu apa. Padahal kalo dipakai enjoy, kan ya oke oke aja… harus prepare bu mimil and what so ever untuk observasi…harus ada pertengkaran…mood jelek dan lain sebagainya….ohhh Tuhan…pagiku hari ini memang berawal dari cobaan hidup. Namun sampai malam ini menjumpa…aku rasa aku baik baik saja.. inilah yang seharusnya jadi pertanyaan kenapa aku kok baik baik saja?? Orang pintar adalah orang yang selalu berfikir bahwa dirinya tidak dalam kondisi yang baik baik saja. Benarkah demikian. I dont really know then.
Ke dua, betapa tololnya aku harus berlari dari gedung D7 sampai E11 dalam kondisi hujan lebat!!! Ini adalah hal terburuk yang aku lalui hari ini. Lebih kejam dari makian bu Mimil. Mungkin apa yang terjadi adalah karma. Karma apa? Aku gag paham. Mungkin karna aku bilang ke septia bahwa betapa malangnya dia harus pulang ke rumah dengan kondisi hujan lebat sedangkan aku akan santai menikmati materi kelas di ruang ber AC yang nyaman tanpa peduli apakah petir sedang menyambar-nyambar atau gunung meletus. Oooh betapa malangnya… atau mungkin ini adalah kesalahan orang lain yang imbasnya hanya pada aku? Gara gara sang ketua tidak memberi tahuku bahwa kelas yang dulunya di SAC, saat itu dipindah ke E11? Konyol. Mungkin juga bisa iya. Namun bagaimana aku bisa membuat sebuah pernyataan bahwa orang tersebut salah? Padahal aku belum meng-sms orang itu duluan. Apakah yang salah kemudian aku? Huh…betapa. namun apalah itu. Aku yakin kita – antara aku dengan sang ketua – punya ikatan chemistery yang sudah lama kita bangun jadilah tidak mungkin ada prasangka. Kalaupun ada akan aku atau dia buat maklum. Inilah pengertian. Baik…problem solved…tidak ada dendam!!
Ke tiga, ini lebih menghebohkan lagi….antara aku dan sang ketua lagi. Apa yang kemudian orang fikir jika sebelumnya mendapat informasi bahwa hari ini akan melakukan presentasi? Apakah lari sambil membawa payung dengan kondisi lebat bersikukuh harus datang ke kelas untuk memenuhi kewajiban presentasi? Atau diam di siatu tempat yang nyaman menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi panas? Atau akan menerobos hujan tanpa berfikir ada payung ditangan karna berada dalam kebimbangan mental tingkat tinggi. Tentu manapun pilihannya pasti ada resikonya. Well…dan kebetulan pilihan ketiga, adalah keputusanku dalam menanggapi pernyataan –yang berupa pertanyaan – tersebut. Cukup adil, ada hak dan kewajiban. Sekarang betapa kagetnya jika kita sudah berbasah-basah, sampai di dalam kelas dan tidak terjadi apa-apa… ini adalah seperti kamuflase penghinaan tingkat tinggi yang seolah-olah merupakan sebuah surprize heboh dan penghargaan tingkat dewa. Wowww….terdiam…basah…bau..panas…kelas pengap….ada bule amerika masuk ke kelas… ini dia dosen pengganti hari ini. Oke cukup. Mungkin sang ketua tidak mengatakan apa-apa sebelumnya ke pada ku yang sudah bersikukuh presentasi, bahwa hari ini akan ada si bule datang. Well, lagi-lagi balik ke rumus awal – rumus chemistry.
Ke empat. You know what?? We are discussing THANKS GIVING DAY in America. I was so bored in the begining, but it’s quite weird when she – the bule namanya Irish – made a simulation of celebrating THANKS GIVING day in particular family. So we had to make circle – like sitting in a round table where foods are drinks are served – then say thank to someone or anything. Kita punya jatah waktu sendiri-sendiri untuk mengungkapkan rasa terima kasih pada siapa pun. Di awali sama si Iris sebagai pemimpin table nya kemudian – huh what a lucky – dilanjut aku sebagai next thanker huh… dan gilanya…apa yang aku katakan benar-benar klise… karna aku benar-benar linglung bingung mau bilang apa. Huh…memalukan…aku sendiri yang merasa malu. No matter…karena banyak pelajaran yang bisa aku ketahui.. ternya setiap orang punya masalah yang kompleks dan rumit. Acara simulasi ini menurutku kemudian berubah menjadi the real thaks giving day in Indonesia. Anak anak kemudian say thanks very deeply to orang orang yang mereka cintai.. mayoritas Ibu… aku cukup tercengang mendengar seorang cew – lupa namnya – yang sangat dalam sekali mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tuhan.. lumayan lama – dan yang paling lama memang dia yang berucak terima kasih – dan sangat menyentuh sekali kisahnya – sampe-sampe si Irish kehabisan tissue buat ngelap air matanya – huhh ternyata inilah kehidupan. Aku baru tahu cewek berkerudung tersebut yang tergolong anak pintar dan sedikit introvert itu memendam masalah yang sebegitu besarnya. Mungkin ajang di kelas siang tadi adalah curahan hatinya yang hebat dan tidak pernah diceritakan oleh siapa pun – menurutku—karena rona matanya begitu sangat dalam. Seorang cewek yang bersikukuh sekolah ke UM meski Umi dan Abi nya melarang… namun setelah kuliah sampai saat ini dia semester 5, ia berfikir untuk mundur dari UM… dia ingin menghabiskan waktunya bersama ibunya di rumah… merawat ibunya di rumah… dan mencurahkan kasihnya kepada ibu nya. Sungguh mulia sekali. Yang lebih menyayat hati, keinginannya muncul karna ibunya saat ini butuh kasih dan perhatian dari anak-anaknya mengingat ibunya saat ini tengah menderita kangker stadium lanjut. Aku sangat tersentuh. Ia bilang kangkernya semakin parah. Mungkin saat mendengar ceritanya mataku tidak meneteskan air mata, namun hatiku menjerit bersimpati sangat dalam… ternyata ada anak yang sangat berbakti kepada oorang tua seperti itu.. luar biasa….itu lah yang sampai saat ini membuatku mencoba menulis sesuatu. Mencoba mengembalikan keinginanku yang telah pudar. Aku seperti mendapat sebuah teguran halus. Aku terus terngiang-ngiang cerita itu…dan dia…dan keluarga dia… betapa seorang gadis belia harus mengatur waktunya sedemikian rupa….aku bersyukur di beri kesehatan….kemampuan yang lebih…sehat…..kasih sayang dari orang tua dll… sungguh anugerah yang tak ternilai. Huh… tapi sesi THANKS GIVING ini tadi bikin jam kuliahnya molor 30 menit. Mestinya sih selesai jam 14.50…eee jam 15.20 baru selesai… huhu…namun ada pelajaran baru yang aku dapat di sana. Huhuhu…
Ke 5….oke ini lebih bersifat privasi siii…hampir bertengkar lagi sama si doi karna lagi sama-sama bad-mood. Yaaa…inilah kehidupan…tapi semua baik baik saja…sempet ngambek sedikit kaya anak kecil karna uangku dibawa dan di sita semua sama si doi…huhu tapi gag masalah…rayuan maut bisa merontokkan hati si doi untuk ngembaliin itu uang…semua…ya akhirnya dipakailah buat hedonisme sementara…makan sate sama si doi di dinoyo…mborong film di lotus abis abis an…waahhh gila pokoknya…belum lagi pulang dari rumah si doi dibontoting makan..gula…krim mata…dapat gelas…tas kecilll…waahhh si doi memang sama persih kaya toko berjalan…yaaa meski gitu yang penting tetep sayang saja….
Pelajaran hari ini iintinya adalah gag ada yang nyambung…karna kalo disambung jadi gag nyambung…ya jadi kesimpulannya dipakai tidur aja….











